HumorKomikPuty Puar

Komik Persatuan Ibu-Ibu

Semua orang tentu tahu penderitaan seorang ibu. Atau engga semua ya? Di tengah arus informasi yang simpang siur dan tidak berfaedah ini, seorang ibu sejati yang kebetulan merangkap sebagai seorang geologist dan jago gambar (gambar singkapan maupun sketsa biasa) membuat sebuah buku yang memuat coretan keseharian (lucu dan ngeselin) seorang ibu di masa milenial diceritakan.

Seperti deskripsi judulnya, buku ini membahas tentang ‘tingkah pola ibu-ibu muda diinterpretasikan dalam sebuah komik’. Kok udah kayak judul TA ya wkwk. Semua kejadian Puty Puar, si pengarang, ketika kehidupannya berubah dari seorang pegawai perusahaan migas asing menjadi seorang ibu rumah tangga dengan tanggungan seorang anak, diceritakan melalui buku ini.

Kehidupan Puty Puar diceritakan berubah drastis ketika ia melahirkan dan mempunyai anak; dari ekspetasi untuk menurunkan berat badan yang hancur untuk menambah gizi saat menyusui anaknya, sampai derita membawa anaknya ketika travelling ke luar negeri. Perbedaan harapan dan kenyataan seorang ibu diceritakan secara jenaka oleh pengarang untuk menarik gelak tawa pembaca. Kesusahan seorang ibu juga tergambarkan dengan banyaknya quotes berfaedah tentang seorang ibu (dan pastinya berhubungan dengan isi bukunya).

Seluruh pengalaman tersebut diceritakan dengan medium komik, medium yang kini mulai mendapatkan perhatian khusus dari industri kreatif dan Puty Puar menggunakan medium tersebut. Gaya penyampaian cerita lebih diarahkan ke media visual supaya pengalaman sang pengarang dapat tergambar secara nyata. Visualisasi pengalaman ini juga memberikan perasaan terjebak nostalgia kepada pembaca bagaimana sebenarnya (susahnya) diasuh oleh seorang ibu.

Komik ini sangat relatable dengan pembaca golongan wanita 20–30 tahunan(re: ibu-ibu). Tidak heran namanya Komik Persatuan Ibu-Ibu dengan modifikasi simbol Pancasila pada cover sebagai simbol pemersatu bangsa ibu-ibu.

Gaya komik doodle yang mengikuti tren kekinian juga turut memberikan kesan bahwa buku(re: komik) ini dibuat dengan pendekatan milenial dan memenuhi kebutuhan perkembangan zaman. Konten dari komik ini sendiri juga mengambil teknologi informasi sebagai bagian dalam cerita tersebut. Seperti panel sebuah halaman yang menceritakan bagaimana pengarang mengatur Rancangan Anggaran Biaya (RAB) rumah tangga dengan menggunakan software Microsoft Excel dan media sosial Instagram sebagai tempat pengarang menghabiskan kegabutan di sela mengasuh anak.

Balutan cerita jenaka tersebut ternyata menyimpan sebuah pesan moral yang memberi pembaca beberapa insight tentang pentingnya menghargai keberadaan dan peran seorang ibu. “Karena menjadi ibu adalah perjalanan, bukan lomba lari. Semua punya rute masing-masing.” — Puty Puar. Begitulah, seorang ibu menurut Puty Puar; yang berani menjalani dan memaknai sebuah proses memikul tanggung jawab mendidik seorang manusia baru. Rela mengurangi jam tidur untuk menenangkan tangisan bayi dan memberi makan anak, rela mengorbankan acara yang sudah di-booking jauh-jauh hari demi merawat anak yang sedang sakit, serta mengatur keuangan rumah tangga untuk keperluan ini itu si anak.

Show More

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku keren lainnya
Close
Back to top button