HumorJoy RoesmaNadia Mulya

Kocok!: Uncut

“Berbusanalah untuk diri sendiri terlebih dahulu, baru untuk orang lain.” (hlm. 333)

Bagi seorang Nadia Mulya, yang saat menulis buku ini, mengikuti enam arisan, dan sebenarnya pernah lebih banyak lagi. Dari ibu-ibu sekolah sampai sosialita, dia menikmati berinteraksi dengan karakter yang berbeda-beda. Arisan is addictive, dan menjadi escape dari rutinitas sehari-hari. Baginya, arisan juga dorongan agar tidak bermalas-malasan di rumah, dress up, put some make up on, and have a good girl-time.

Sedangkan Joy Roesma, senang berada di soal scenes, seperti peragaan busana dan fashion soiree. Butuh dedikasi tinggi loh, tampil cantik dari pagi hingga malam guna menghadiri rentetan jadwal arisan dan event. Butuh disiplin untuk meluangkan dua hingga empat jam demi perawatan salon rutin. Butuh skill tersendiri untuk selalu ramah kepada orang yang tidak akrab tetapi kerap ditemui di acara. Butuh kreativitas tinggi mengolah busana, sepatu, dan tas agar tidak terlihat seperti pernah dipakai.

Sejujurnya, saya nggak tahu ada buku kayak gini. Baru tahu setelah dikasih buku oleh seorang teman kuliah, Tessa yang mengirimi beberapa buku. Salah satunya ini yang menarik perhatian dan langsung saya baca. Menarik banget, membahas sisi dunia sosialita yang selama ini jauh dari jangkauan. Dari dulu memang tertarik mengetahui dunia ini, tapi cukup sekedar pengen tahu aja. Apalagi zaman sekarang, semenjak adanya instagram, makin banyak orang ingin menunjukkan eksistensinya, salah satunya adalah dunia arisan sosialita. Meski buku ini terbit tahun, 2013 yang mana di tahun tersebut belum banyak orang Indonesia memiliki akun instagram, buku ini sudah lumayan berawarna baik dari segi isi maupun ilustrasinya.

Ada banyak tujuan seseorang mengikuti arisan. Salah satunya adalah untuk eksis dengan cara melakukan sesi pemotretan yang nantinya hasil fotonya diunggah di sosmed mereka. Bagi segelintir wanita, dengan gaul atau eksis di foto-foto, ia merasa menjadi bagian dan memiliki social identity. It becomes her needs.

Seorang fotografer, ketika ditanya kira-kira berapa persen waktu dihabiskan grup arisan langganannya untuk ‘mejeng’ di depan kamera, menjawab sekitar 70%. Makanan tidak tersentuh di piring dan meja prasmanan yang masih berlimpah adalah pemandangan lumrah. Kebutuhan pokok makan dikalahkan kebutuhan untuk diabadikan lensa. Keinginan eksis ada dalam diri setiap manusia, senang mendokumentasikan, makanya fotografer jadi sering dipakai x))

Tapi, masalah permintaan difoto itulah yang suka bikin para waiter pusing. Setiap orang mengeluarkan smartphone dan masing-masing bisa minta difoto hingga lima kali. Tidak peduli saat itu sedang rush hour dan meja-meja lain yang sedang menunggu pesanan melirik kesal.

Selain buat ajang eksis, salah satunya sebagai ajang pemotretan, arisan juga bertujuan sebagai penangkal kejenuhan. Bagi ibu rumah tangga yang suaminya sibuk dan anak-anaknya sudah besar, daripada mati gaya, arisan adalah penangkal kejenuhan yang ampuh.

Motivasi lain ikut arisan segudang adalah kebanggaan bisa masuk dan bergaul di lingkungan sosialita dan selebriti. Mungkin saja pada zaman kuliah mereka tidak sempat bergaul alias kuper x))

Ada banyak faktor yang harus mendukung tampilan saat datang ke arisan. Satu make up item yang menyatukan para wanita arisan adalah bulu mata! Hasil foto rasanya kurang ‘ngok’ kalau tidak pakai bulu mata. Selapis, dua lapis, tiga lapis, bulu mata tidak mengenal istilah ‘less is more’.

Dalam konteks arisan, tas yang konon paling sulit didapatkan (dengan waiting list di negara asalnya bisa berbulan-bulan, itu pun dengan catatan memiliki koneksi orang yang tepat) bisa dijajakan di arisan laiknya baju obral. Artis atau sosialita suka membuat silau masyarakat kebanyakan. Tapi jangan salah loh, belum tentu mereka seperti yang ditampilkan. Seseorang yang hendak diliput suatu media mengenai koleksi tas branded, berusaha merayu teman arisannya yang adalah reseller tas. Ia memohon agar dipinjamkan belasan tas dagangan yang berharga ratusan juta rupiah per pieces itu untuk diakui sebagai miliknya. Si pedagang menolak, tetapi si sosialita tetap tampil dengan koleksi tas yang tak kalah menyilaukan. Mungkinkah itu benar-benar pribadi koleksi pribadinya, ataukah ada teman reseller lain yang bersedia menjadi sponsor sementara? X))

Sebagai orang awam yang tidak mengikuti dunia sosialita dan segala hal arisannya, buku ini menarik untuk dibaca. Gaya kepenulisannya yang renyah, membuat kita betah untuk menyimak kehidupan para sosialita dan berbagai arisan-arisan yang diceritakan di sini.

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Zaman sekarang, hampir setiap wanita memerlukan dua kursi: satu untuk dirinya, satu lagi untuk tasnya yang berharga. (hlm. 21)
  2. Peer pressure di kalangan arisan sangat kuat. (hlm. 129)
  3. Brand membuat merasa bisa upgrade status. (hlm. 154)
  4. Jangan terperkosa karena brand. (hlm. 155)
  5. Memang kita memang masih mental follower, kalau misalnya ditegur atau diberi opini bahwa penampilannya beda, langsung merasa tidak nyaman dan insecure, dan akhirnya memilih seragam saja. Lebih baik jadi orang lain daripada diri sendiri. (hlm. 155)
Show More

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku keren lainnya
Close
Back to top button